Wednesday, 11 December 2013

Kultur Stiker

Stiker. Benda kecil satu ini merupakan sebuah karya seni yang sering terabaikan oleh khalayak umum. Hanya segelintir orang saja yang meliriknya sebagai sebuah karya seni. Untuk mereka pengagum seni visual dalam media kertas, stiker merupakan pilihan kesekian setelah kartu pos atau perangko dan media lainnya. Namun bagi saya, stiker merupakan melebihi keduanya.Sebab desainnya yang selalu dinamis, bahkan kedinamisan itu sangat cepat sekali, dan sisi yang paling saya senangi adalah adanya kecendrungan counter-culture dari seni stiker itu sendiri yang dimana tidak dapat ditemukan dalam seni mengumpulkan kartu pos maupun lainnya.
Seperti apa seni counter-culture yang dimaksud? Akan dibahas lain kesempatan. Nantikan! Ini hanyalah tulisan pertama sebagai wujud invasi ide-ide saya tentang kultur stiker di masyarakat terutama dalam kaitannya dengan fenomena urban. Saya adalah seorang pengepul stiker jadul dan juga museum director unuk proyek seni amatiran ciptaan saya sendiri, yaitu museum stiker yang saya namakan Easy Tiger, Asia #1 Stickers Museum.

1 comment:

  1. Mengutip artikel dari http://regional.kompas.com/read/2013/11/25/2050094/Mengapa.Merindukan.Sosok.Suharto.

    Selain kaus dan stiker bergambar Suharto yang banyak dibeli, Museum Memorial Jenderal Besar HM Suharto juga ramai dikunjungi orang. Museum yang terletak di Kemusuk, Bantul, Yogyakarta, ini baru berdiri pada 8 Juni lalu.

    Pada akhr pekan pertama di bulan November lalu, museum itu ramai dikunjungi orang yang umumnya datang secara rombongan. Pengelola mengatakan, pengunjung bisa memasuki kawasan museum tanpa harus mengeluarkan biaya sepeser pun.

    "Kami berharap untuk anak-anak pelajar kita supaya mereka tahu bahwa di Desa Kemusuk pernah lahir seorang anak desa bernama Suharto dan beliau bisa berkiprah dalam membangun bangsa dan negara. Bahkan karena kiprah beliau memimpin selama 32 tahun, beliau mendapat sebutan Bapak Pembangunan Nasional," kata Humas Museum Suharto, Gatot Nugroho.

    Sementara penggagas dan pendiri museum itu, Probosutedjo, mengatakan, pendirian museum merupakan bagian dari apa yang disebutnya sebagai upaya untuk mengembalikan nama baik Suharto.

    "Terus terang saja ini untuk mengembalikan nama baik Pak Harto, apa betul Pak Harto seperti dituduhkan dia suka menumpuk banyak kekayaan, sadis, terlibat pembunuhan. Kan yang melakukan pembunuhan itu pembantunya, bukan Pak Harto," kata Probosutedjo.

    Nah!

    ReplyDelete